Draco duduk lagi dan merogoh ke dalam tas bukunya untuk perkamen dan pena bulu. Ketika semua sudah ada di meja, Draco melihat ke atas, wajah penuh tekad. “Silakan.”
“Cari lukisan yang mengenal pasangan suami istri SquibтАУjangan membuat wajah itu, Draco, ini informasi penting. Tanyakan saja lukisan-lukisan baru yang Gryffindor atau apa. Cari lukisan yang mengenal pasangan Squib cukup dekat untuk mengetahui nama-nama seluruh anak mereka. Tuliskan nama-nama tiap anak dan apakah anak itu penyihir, Squib, atau Muggle. Jika mereka tak tahu apakah anak itu Squib atau Muggle, tulis ‘non-penyihir’. Tulis itu untuk tiap anak yang dimiliki pasangan itu, jangan tinggalkan satu pun. Jika lukisan itu hanya mengenal nama- nama para anak yang penyihir, dan bukan nama seluruh anak, maka jangan tulis data apa pun dari pasangan itu. Amatlah penting untukmu hanya membawa padaku data dari seseorang yang mengenal seluruh anak yang pasangan Squib miliki, cukup dekat untuk mengenal nama mereka. Coba untuk mendapatkan paling tidak empat puluh nama total, jika kau bisa, dan jika kau memiliki cukup waktu untuk lebih banyak, itu lebih baik. Sudah kau tulis semuanya?”
“Ulangi lagi,” kata Draco, ketika dia sudah selesai menulis, dan Harry mengulanginya.
“Sudah kutulis semua,” kata Draco, “tapi kenapaтАУ”
“Itu ada hubungannya dengan salah satu rahasia darah yang para ilmuwan sudah temukan. Aku akan jelaskan ketika kau kembali. Mari berpencar dan berkumpul lagi di sini dalam satu jam, 6:22 pm itu harusnya. Apakah kita siap?”
Draco mengangguk dengan tegas. Itu semua sangat terburu-buru, tapi dia sudah sejak lama diajari bagaimana caranya terburu-buru.
“Kalau begitu pergi!” kata Harry Potter dan menarik jubah berkerudungnya dan menjejalkannya ke dalam kantong, yang mulai memakannya, dan, bahkan tanpa menunggu untuk kantongnya selesai, berputar dan mulai melangkah dengan cepat menuju pintu ruang kelas, menabrak satu meja dan nyari terjatuh dalam ketergesaannya.
Di saat Draco berhasil melepas jubahnya dan memasukkannya ke tas bukunya, Harry Potter sudah menghilang.
Draco nyaris berlari keluar dari pintu.
*Chapter 23*: Kepercayaan Dalam Kepercayaan
Semua orang menginginkan satu batu untuk mengaitkan seutas benang mengelilingi J. K. Rowling.
“Dan kemudian Janet adalah Squib,” kata satu lukisan wanita muda pendek dengan topi berpotongan emas.
Draco menulisnya. Itu hanya dua puluh delapan tapi sekarang adalah saatnya kembali dan bertemu dengan Harry.
Dia perlu bertanya pada lukisan lain untuk membantu menerjemahkan, Bahasa Inggris sudah berubah banyak, namun lukisan-lukisan tertua sudah mendeskripsikan mantra-mantra tahun pertama yang terdengar sangat mirip dengan yang mereka miliki saat ini. Draco mengenali sekitar setengah dari mereka dan setengah yang lain tak terdengar lebih kuat.
Perasaan mual di perutnya bertambah tiap kali mendengar jawaban sampai akhirnya, tak mampu menahannya lagi, dia sudah pergi dan menanyakan pada lukisan lain pertanyaan aneh Harry Potter tentang pernikahan Squib. Lima lukisan awal tak mengenal satu pasangan pun dan akhirnya dia meminta pada lukisan- lukisan itu untuk meminta kenalan mereka untuk menanyakan pada kenalan mereka dan kemudian akhirnya berhasil menemukan beberapa orang yang benar-benar mengakui berteman dengan Squib.
(Si tahun pertama Slytherin menjelaskan kalau dia sedang mengerjakan suatu proyek penting dengan seorang Ravenclaw dan si Ravenclaw memberitahunya kalau mereka memerlukan informasi ini dan kemudian pergi tanpa mengatakan kenapa. Ini memperoleh banyak pandangan simpati.)
Kaki Draco terasa berat saat dia melangkah melewati koridor-koridor Hogwarts. Dia harusnya berlari tapi dia tak mampu mengerahkan tenaga. Dia terus berpikir kalau dia tak ingin mengetahui tentang ini, dia tak ingin terlibat dalam semua ini, dia tak ingin ini jadi tanggung jawabnya, biarkan saja Harry Potter yang melakukannya, jika sihir memang memudar biarkan Harry Potter yang mengurusnya тАж .
Tapi Draco tahu kalau itu tak benar.
Dingin si dungeon Slytherin, kelabu si dinding batu, Draco biasanya menyukai atmosfer ini, tapi sekarang terasa sangat berlebihan seperti memudar.
Tangannya di kenop pintu, Harry Potter sudah di dalam dan menunggu, memakai jubah berkerudungnnya.
“Mantra-mantra kuno tahun pertama,” kata Harry Potter. “Apa yang kau temukan?”
“Mereka tak lebih kuat daripada mantra-mantra yang kita pakai sekarang.”
Kepalan Harry Potter menghantam satu meja. “Sialan. Baiklah. Eksperimenku sendiri juga gagal, Draco. Ada sesuatu yang disebut dengan Interdict of MerlinтАУ”
Draco memukul dirinya sendiri di dahi, menyadarinya.
“тАУyang menghentikan siapapun dari mendapatkan pengetahuan mantra-mantra kuat dari buku-buku, bahkan jika kau menemukan dan membaca satu catatan penyihir kuat mereka tidak akan masuk akal untukmu, itu harus berpindah dari satu pikiran hidup pada pikiran hidup lainnya. Aku tak bisa menemukan mantra kuat apa pun yang kita miliki instruksinya tetapi tak bisa lemparkan. Tapi jika kau tak bisa mengeluarkannya dari dalam buku- buku tua, kenapa ada yang susah-susah menyebarkan mereka melalui mulut ke mulut setelah mereka berhenti bekerja? Apakah kau memperoleh data atas pasangan Squib?”
Draco mulai mengulurkan perkamennyaтАУ
Tapi Harry Potter mengangkat satu tangan. “Hukum sains, Draco. Pertama aku memberitahumu teori dan prediksinya. Kemudian kau menunjukkan padaku datanya. Dengan begitu kau tahu kalau aku bukan hanya membuat-buat satu teori yang sesuai; kau tahu kalau teorinya benar-benar memprediksikan datanya terlebih dulu. Lagipula, aku harus menjelaskan ini padamu juga, jadi aku harus menjelaskannya sebelum kau menunjukkanku datanya. Itu adalah aturannya. Jadi kenakan jubahmu dan mari kita duduk.”
